Halaman

Jumat, 31 Agustus 2012

Sepenggal Cerita

Cerita ini saya dapet dari kakak saya, dan saya ga tau dia dapet dari mana..

Suatu hari di sebuah kelas perkuliahan yang semua mahasiswanya sudah menikah, seorang dosen meminta seorang mahasiswa maju ke depan dan menuliskan 10 nama orang-orang yang sangat berarti baginya di papan tulis. Lalu pria itu (kebetulan di dalam cerita, mahasiswa yang maju itu pria) menuliskan nama 10 orang yang terdiri dari orangtua, istri, anak, teman, sahabat, tetangga, dll.

Kemudian dosen itu menyuruhnya mencoret salah satu dari 10 orang itu, yang menurutnya tidak terlalu penting. Lalu pria itu mencoret tetangga. Begitu seterusnya hingga tersisa tiga nama, yaitu orangtua, istri, dan anak.

Pria itu berpikir bahwa sang dosen akan berhenti menyuruhnya mencoret nama-nama tersebut. Ternyata tidak. Dosen itu memintanya mencoret satu nama lagi. Maka pria itu mencoret orangtua. Lagi-lagi sang dosen memintanya mencoret satu nama lagi, hingga tersisa satu orang yang sangat berarti bagi pria tersebut. Maka pria itu mencoret anak.

Kemudian sang dosen bertanya, "Mengapa kau mencoret orangtua dan anak? Padahal mereka adalah darah dagingmu, sedangkan istrimu bukan siapa-siapa. Ia tidak memiliki darah dan dagingmu". Pria itu menjawab, "Orangtua dan anak, bukan saya yang menentukan. Tuhan yang memilihkannya untuk saya. Cepat atau lambat saya akan berpisah dengan mereka. Ketika saya dewasa dan memiliki keluarga sendiri, saya akan meninggalkan orangtua saya. Begitupun anak saya. Kelak ia akan meninggalkan saya ketika ia telah memiliki keluarganya sendiri. Yang bisa menemani saya hingga saya tua hanyalah istri saya. Dan saya sendiri yang memilihnya dari ribuan, bahkan jutaan wanita yang ada."

Keren banget jawabannya si mahasiswa. Hahaha.

Kamis, 23 Agustus 2012

Untold Couplet

Image from here
Ketika jarak merebut kesempatan 
Ketika kata tak dapat tersampaikan
Ketika waktu menghambat cerita
Ketika sibuk membuatmu lupa
Ketika lelah menyurutkan asa
Ketika tawa tak lagi dirasa
Ketika canda tak lagi menyapa
Ketika ruang mulai terasa hampa
Ketika keluh menimbulkan jelaga
Ketika masalah tak menemukan muara
Ketika semuanya tak lagi sederhana....
Kami masih di sini
Mengejar ruang yang tak terbeli
Mengiringi langkahmu kian kemari
Menghapus peluh yang bergulir
Membasuh jelaga yang menepi
Kami masih di sini
Mengurai tali yang terbelit
Menggores waktu yang mengalir
Agar kenangan ini tetap terukir
Agar cerita ini tak pernah berakhir....
Kami masih di sini....
Selamat ulang tahun, penuai cerita..
Beribu doa terangkai agar kau temukan bahagia..

Aku Seorang Pencemburu

Image from here
Aku seorang pencemburu.. 
Dalam diam menahan sembilu
Melawan nafas yang memburu

Aku seorang pencemburu..
Menatap pilu dia yang merayu
Pada dirimu yang tersenyum penuh malu

Aku seorang pencemburu..
Mendengar namanya dalam bisu
Membuat kanvas tergores ngilu

Aku seorang pencemburu..
Menahan ego sekeras batu
Menyembunyikannya dalam lumbung penuh ragu

Aku seorang pencemburu..
Mengisi hari dengan tatapan sayu
Menunggu kau meniupku bagai debu

                                           (gestipr, 2012)

Selasa, 21 Agustus 2012

The Call - Regina Spektor

Really really love this song. The lyric has deep meaning. Errr,, maybe, this song reminds me something,,, or,,, someone..

The Call - Regina Spektor
Ost. Chronicles of Narnia: Prince Caspian

Image from here
It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word

And then that word grew louder and louder

'Til it was a battle cry

I'll come back

When you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing

Doesn't mean it's never
Been this way before

All you can do is try to know

Who your friends are
As you head off to the war

Pick a star on the dark horizon

And follow the light

You'll come back

When it's over
No need to say good bye

Now we're back to the beginning

It's just a feeling and now one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget

Let your memories grow stronger ans stronger

'Til they're before your eyes

You'll come back

When it's over
No need to say good bye

Minggu, 19 Agustus 2012

Idul Fitri 1433 H

Image from here
Halo, para blogger dan pembaca yang mungkin nyasar atau emang niat berkunjung ke blog saya, selama ini, mungkin ada kata-kata saya yang kurang berkenan, janji saya yang ingkar, perbuatan saya yang menyakiti hati, saya mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya. Selamat lebaran 1433H, mohon maaf lahir dan batin. Photobucket

Rabu, 15 Agustus 2012

Selasa, 14 Agustus 2012

Hari ini fix gue memutuskan ke kampus naek kereta. Niatnya mau melaksanakan rencana yang udah gue buat dari kapan tau. Yaitu, menyusuri pinggiran stasiun Bogor untuk mencari sesuap nasi. Eh salah, mencari suatu bendalah pokoknya.

Karena jadwal kereta yang paling cepet itu ekonomi, jadi gue naek ekonomi sendirian untuk pertama kalinya, syalala ~. Untung ga penuh. Ga penuh di sini bukan berarti gue ga diri. Maksudnya ga sesak gitu dirinya.

Hal yang menarik di sini adalah, lu bisa beli apa aja hanya dengan uang 20 ribu. Gue sempet nyimak baik-baik beberapa barang yang ditawarkan beserta harga yang harus dibayar. Ikat pinggang/sabuk SD, SMP, SMA harganya cuma 5 ribu. Sapu tangan 10 ribu dapet tiga. Gue kira kaos kaki 10 ribu dapet 3 itu udah yang paling murah tapi di kereta 5 ribu dapet dua, itu murah banget. Ada kartu perdana harganya seribu. Yang paling nyesek adalah jam monol yang dulu baru keluar harganya 90 ribu, di kereta dijual 10 ribu. Sakit hati banget. Eh tapi apa monolnya palsu kali ya? Masa harganya jatoh banget?

Keluar stasiun langsung menyusuri pinggiran Bogor. Akhirnya nemu juga tokonya. Kirain gue beli ginian harus dipesen dulu, ternyata bisa ditungguin. Hahaha, lega akhirnya udah dapet. Mau tau apa yang gue beli? Tunggu postingan yang berikut berikut berikut berikut dan berikutnya lagi.

Nyampe kampus niatnya mau ngambil transkip nilai. Tapi loket sekret GFMnya udah keburu tutup. Jadinya cuma ngeliatin mimin MPKMB yang sibuk balesin mention maba IPB.

Lucu banget ni orang, diketik diapus lagi, diketik lagi diapus lagi. Ada yang susah, buka panduan SOP. Atau kebingungan jawab pertanyaan tentang ecobag boleh dari karung goni apa enggak. Gerutu-gerutu dikit jawab pertanyaan ga penting yang udah jelas-jelas ada di SOP. Mau ngucapin selamat hari Pramuka aja diketik apus beberapa kali, searching di mbah Google, sampe akhirnya malah ga jadi ngucapin. Hahaha.

Karena twitnya si mimin udah limit dan kita bingung mau ngapain di kampus, akhirnya pulang aja. Padahal si mimin tadinya niat mau nyampe rumah pas adzan magrib biar langsung buka.

Gue memutuskan pulang naek kereta, soalnya gue mau belajar naek kereta dari Bogor ke Bojonggede (belom pernah sendiri soalnya). Sebenernya gue bingungnya cuma pas nyari keretanya aja di jalur berapa. Ternyata setelah dipikir-pikir lagi, gue bisa naek kereta mana aja dong, kan turunnya cuma di Bojonggede. -____-"

Kereta ekonomi jadi pilihan, karena jadwal keberangkatannya paling cepet. Di dalem kereta, gue heboh sendiri. Sebenernya naek ekonomi itu seru kalo jaraknya deket. Kalo jauh cape dirinya, hehehe. Di kereta ekonomi kita bisa ngeliatin pola tingkah laku setiap orang, strata ekonomi, pokonya keliatan deh perbedaannya. Seru aja merhatiin itu semua.

Rame banget kan :D




Dan pasti ada yang tidur di kereta, bahaya nih, duduknya deket pintu

Bulan puasa gini jual minuman dingin, menggoda iman banget -__-

Hati-hati ya dek turunnya

Apis stay cool :D

Yaaah, after all seru lah ngebolangnya hari ini. Walaupun bikin haus si. Hahaha :D

Selasa, 14 Agustus 2012

Tewas Tertindih

Foto ini diambil sama Faza tanggal 10 April 2012, di depan SC. Waktu itu gue sama dia berniat ikut open recruitment panitia Open House 49. Langsung aja kita ke SC buat ngambil formulir pendaftaran dan bikin surat komitmen di sana. 

Setelah puas berhahahihi dengan peminat lainnya di depan sekret BEM TPB, minjem pulpen dkk di sekret juga, dan juga karena jam sudah menunjukkan pukul 17.38, akhirnya kita pulang. Begitu sampe teras, gue bingung nyariin sepatu yang ilang sebelah. Ternyata eh ternyata,,,, sepatu itu ditemukan tewas tertindih ban motor oleh pengendara yang tidak bertanggung jawab. Bisa diliat, bentuknya udah bikin hati miris. Kenapa bisa pas banget posisinya? Sesaat pengen banget ngomel-ngomel ke orang yang punya motor. Hahaha. Kejadian ini bikin ngakak ga berenti-berenti. Si Faza sampe excited banget buat moto yang beginian. Huehehe.

Nama Panggilan

Kali ini gue akan ngebahas beberapa nama panggilan yang gue dapet. Dulu waktu SMA nama-nama panggilan yang gue dapet merupakan modifikasi dari nama gue. Misal, Gestrut, Gestong, Bujes, dan yang paling ga nyambung, Marity.

Tapi sekarang, di masa-masa kuliah ini, nama panggilan yang gue dapet semuanya sejenis. Si Eja yang dulu manggil gue cilik, sekarang jadi manggil cilok gara-gara waktu itu dia salah ketik, dan malah keterusan sampe sekarang. Si Rhefa sempet manggil gue si bontot. Si Tajul pernah nyebut gue barbie. Si Oco pernah manggil gue si kecil. Dan sekaraaaaang,,, si Rizka manggil gue acil a.k.a anak kecil... -..-

Mungkin mereka terinspirasi dari badan gue yang kecil, atau kenyataan kalo gue emang anak bungsu yang masih kayak bocah. Yaaaaah, disyukuri aja yah, setidaknya nama panggilannya bukan hal yang buruk-buruk. :)

Senin, 13 Agustus 2012

MM Crew Go to PRJ!!!

Oke, kali ini gue akan ngebahas acara jalan-jalan dadakan MM ke Pekan Raya Jakarta (PRJ)!! *plokplokplok*

Lima orang yang udah jamuran di kampus karena ga bisa pulang, Prakoso (Oco), Agung, Hafiz (Apis), Mita, dan gue (walaupun gue pulang terus), sepakat buat jalan-jalan ke PRJ hari Sabtu, 14 Juli 2012. Janjian jam 10.00 di BNI tapi akhirnya berangkat jam setengah sebelas gara-gara nungguin gue. Kita langsung capcus dengan semangat ala anak-anak ngeliat komidi puter di pasar malem. Oh iya, berikut barang bawaan masing-masing:
  • Oco : pake tas punggung besar, tapi isinya cuma pulpen satu warna kuning. Akhirnya disuruh bawa dua botol air mineral, roti, sama happytos biar tasnya ga ope.
  • Agung : pake tas punggung ukuran sedang, bawa air mineral sama roti tawar handmade-nya yang dimasukin ke tempat makan bening dengan tutup warna biru.
  • Apis : pake tas punggung, tapi tidak diketahui secara pasti apa yang dia bawa. Sampai sekarang hal tersebut masih menjadi sebuah misteri. (dibaca pake logat peniti bros)
  • Mita : pake tas kamera, isinya ya kamera. Bawa dompet lumba-lumba juga yang isinya pocket camera. Dia bawa mukena tapi dititipin di tas gue.
  • Gue : pake tas tangan, isinya dua buah payung (satunya punya mita yang sekarang lupa belum gue balikin, dompet, tempat pensil, dan tisu.
Pertama, naek angkot jurusan kampus dalam ke laladon. Di angkot terjadi perdebatan seru antara Mita, Apis, dan Agung tentang rute perjalanan kita ke PRJ. *serunya ngalahin debat DPR*. Gue sama Oco yang emang ga tau rutenya nurut aja apa kata mereka. Setelah fix mau naek kereta dan turun di stasiun Kemayoran, kita ngobrol-ngobrol ringan sambil bercanda.

Sampe di laladon, naek angkot 03 ke stasiun Bogor. Perjalanan kembali diisi dengan banyolan-banyolan garing yang disusul dengan garukan telapak tangan saking garingnya. Sampe stasiun, kita sepakat naek kereta ekonomi yang harga tiketnya sesuai dengan kantong anak kuliahan. Tapi lagi-lagi kita bingung mau turun di stasiun mana. Sampe akhirnya Prakoso nanya sama mbak-mbak penjaga loket. Pas si Oco udah pergi, gue liat si mbaknya senyum geli.

Oke, fix akhirnya kita turun di stasiun Rajawali. Liat jadwal keberangkatan kereta, bikin perut rada mules. Keretanya berangkat jam setengah satu, itu artinya kita harus nunggu satu jam. Sambil nunggu, kita foto-foto di peron.

Akhirnya kereta berangkat. Jangan tanya gimana rasanya naek kereta ekonomi dari Bogor sampe Rajawali. Kaki gue udah berasa ngilu-ngilu, udara pengap, dan anehnya di kereta yang udah sumpek gitu masih ada orang jualan yang lewat dorong-dorong barang dagangannya. O iya, si Oco beli kue gitu (ga tau namanya apaan) harganya seribu, isinya lima. Jargonnya "seribu untuk berbagi kawan". Hahaha lucu banget, masing-masing dapet satu. Hal-hal kecil kayak gini yang bikin kangen. Sampe stasiun nan jauh di sana, akhirnya gue duduk juga *dicariin tempat duduk tentunya sama Oco n Agung*. Perjalanan naek kereta, bikin semangat susut. Sekarang mukanya udah pada mulai lecek kayak uang seribuan.

Daaaaan, akhirnya sampe juga di stasiun Rajawali. Semangat mulai naek lagi, ngebayangin PRJ udah ga jauh lagi. Nanya sama mas-mas yang kerjaannya mintain tiket di stasiun, "Mas, kalo mau ke PRJ lewat mana ya?", "Lurus aja, belok kiri, bla bla bla.." *gue bengong*. Yap, abis itu kita jalan menyusuri rel kereta. Agak sakit ya batunya tajem-tajem. Harusnya gue pake sepatu "kucing-kucing" (baca bahasa inggrisnya) aja. Acara ga seru kalo ga sambil foto-foto.


Mita yang mukanya keliatan girang banget

Foto bareng kereta yang lewat
Setelah puas foto-foto bareng kereta yang lewat (norak banget), kita lanjut jalan sambil terus ngomongin apa aja yang bisa diomongin. Ini pemandangan khas Jakarta banget.




Ya, kerak telor sama bajaj, gue kangen banget sama pemandangan khas ini yang udah jarang banget gue liat lagi sejak gue hijrah dari Jakarta ke Bogor 15 tahun yang lalu. Setelah jalan agak jauh di bawah terik matahari, akhirnyaaaaaa....


Nyampe sana, kita bingung mau masuk lewat pintu berapa. Akhirnya kita ngikutin mbak-mbak dan mas-mas yang mau masuk juga. Nungguin Mita ngantri loket, kita ngeliat ada timbangan buat anak kecil gitu. Jadi tarif yang dikenain ke si anak ditentuin dari berat badan anak itu. Dan gue lupa siapa yang bilang, "Ges lu nimbang dulu sana". Tidaaaaaaaaakkkkk *teriak ala Apis. 

Acara berlanjut ke sesi nyari mushola. Lagi-lagi si trio yang udah ke PRJ sebelumnya ini berdebat soal letak mushola. Akhirnya kita ngikutin Mita ke arah Holand Bakery yang di atasnya ada mushola. Perjalanan menuju lokasi, harus ngelewatin sales-sales yang ga tau majang motor, elektronik, dll atau majang aurat. Lebih ke pilihan kedua kayaknya. Dan di sini mata dan iman para remaja akhir pekan itu (baca: Oco, Apis, Agung) diuji. Yah, gue si cuma bisa ngeledek, "eh belum cukup umur, ayo jalan terus!". Hahaha.

Abis solat, duduk-duduk sebentar, sambil makan Happytos. Ga tau kenapa gue suka foto ini, yang diambil sama Agung.



Udah lumayan kenyang (baca: Happytos nya udah abis), kita lanjut muterin PRJ sampe kaki pegel. Berikut foto-foto kita yang ga kalah seksi dari kuda nil pake bikini. (Apa deh, ga nyambung).


Ketauan banget ya Mit maksanya
Ini foto Oco yang paling lucu dan bikin heboh, hahaha
Sok keren banget iniiiii XD
Ini masnya lebih sok keren lagi, hehehe
MM Crew

Ada kejadian aneh loh. Ada mbak-mbak lenjeh nyamperin kita trus nawarin kerjaan yang ga jelas gitu. Mbak-mbaknya mungkin niatnya mau bikin suasana jadi akrab, tapi malah bikin serem menurut gue (mereka sok kenal gitu, nanya-nanya ini itu). Lucunya, waktu para remaja akhir pekan ini ditanyain namanya, mereka pada ngambil nama tengah semua. Si Oco jadi Ari, Agung jadi Dwi, Apis jadi Fatur. Pokoknya lucu deh. Dan si Agung ngasih nomer expirednya ke mbak-mbak itu waktu mbak-mbaknya maksa minta nomer salah satu dari kita. Mereka minta difoto pula, haduh-haduh.

Ada lagi nih cerita lucu. Si Oco tertarik banget ikutan kuis Telkomsel. Hadiahnya modem sama hape yang harganya 17 ribu. Lucunya, udah diri paling depan, pas ditanya dia pake telkomsel apa engga, dia jawab engga. Terpaksa deh dia beli kartu perdana dulu. Tapi sayangnya dia tersingkir gara-gara ngasihin KTM waktu mas MCnya nyuruh peserta ngasihin KTP. Alhasil dia cuma dapet handbag sama pulpen. Tapi bersyukur juga si Oco ga menang. Ternyata yang menang suruh isi ulang pulsa dulu 50 ribu. Alhamdulillah yaaa. Ini fotonya..


Terlihat senang sekali ya

Makin sore suasana makin crowded. Gue yang berpostur badan "tinggi" banget ini mulai ketinggalan di belakang. Gue cuma ngapalin siapa orang yang ada di depan gue sebelumnya. Kalo di depan gue Apis, gue akan fokus ngeliatin tasnya Apis biar gue ga ilang. Atau ngeliatin balon hijaunya Mita yang melambai-lambai di tengah kerumunan. Pernah juga panik, tadinya di depan gue si Oco, gue udah ngapalin tasnya, eh tiba-tiba dia ilang. Udah mencelos, pas nengok taunya dia di belakang gue. Terus bilang "ayo jalan duluan, ntar ilang lagi". Hahaha, nasib. 

Udah malem, perut juga udah mulai keroncongan. Kita sepakat nuker kupon sama makanan sejenis pop mie gitu deh. Dan rasanyaaaaa,,,, hambar. Ga enak banget.



Serem ya? Digaji berapa ya didandanin kayak gitu? (Kenapa Ges? Mau?)

Di PRJ ini, si Oco kesel sama seseorang. Siapa hayo?? Yap, orang yang beruntung mendapat kesempatan bikin Oco kesel itu adalah mbak-mbak penjual krim bengkuang. Sempet berantem juga mereka. Ceritanya Oco ditarik trus tangannya diolesin krim gitu deh. Intinya, si mbak-mbaknya udah cape-cape ngejelasin, taunya si Oco ga beli. "Yee, mas kenapa ga bilang kalo ga mau beli. Saya udah cape-cape ngejelasin juga", kata si mbak, "lagian siapa yang minta dijelasin?" jawab Oco. Kira-kira begitulah percakapan puitis mereka. :p

Terus, nungguin Mita beli bluetooth, flashdisk, dll. Lama ya pemirsa. Lagi nungguin gitu, di seberang tokonya ada penjual yang heboh banget gitu nawarin dagangannya. Berbagai jenis pisau ada deh. Jelas gue ngira dia jualan pisau. Taunya,, yang dijual itu asahannya. -____- gue ketipu.

Di jalan, Agung ngeliat tukang jual jam alarm yang selama ini dia cari karena ngeliat punya temennya. Pas ditanya, harganya 40 ribu. Si Mita dengan meyakinkannya bilang, "ah di bara cuma 35 gung". Pokoknya setelah melalui perdebatan sengit, akhirnya kita beli jam itu 120 ribu dapet empat, masing-masing satu. Ih so sweet banget si kita. Hahaha. Karena ngerasa puas kita dapet jam dengan harga murah, kita tanyain penjual-penjual jam serupa yang kita lewatin. Eh ada penjual jam yang bilang harganya 35 ribu. Kita langsung kecewa berat. Si Agung bilang, "gue yakin kalo kita nawar dapet 25 tuh". Hihi, ya udahlah, bubur udah ditelen.

Pas mau pulang, inget tugas negara buat bikin video pertanian. Akhirnya kita beli kerak telor, satu buat rame-rame biar terasa kebersamaannya (bilang aja kere), sambil wawancara bapak penjualnya. Ga lupa foto dulu.



Akhirnya kita pulang naik kereta commuter line. Sekali lagi, commuter line. Alhamdulillah ya Allah, keretanya kosong udah kayak punya sendiri.

Duet monyong ga ada matinya
Cieeee, jam baru..

Kita sempet turun dulu di stasiun Manggarai buat nemenin si Agung nuker tiket. Tapi ternyata ga bisa kalo di stasiun Manggarai. Akhirnya kita naik kereta lagi dan pake tiket yang tadi (ga mau rugi, hehehe). Si Oco duduk di sebelah mbak-mbak yang lagi mimpi indah kayaknya. Gue langsung mengompori si Mita buat moto tu mbak-mbak. Jahat baget ih gue. :p


Maaf banget ya, Mba
 Yah, si Apis harus turun duluan di stasiun Pasar Minggu karena mau pulang ke rumah. "Kalo kangen liat jamnya aja yaaaa". Begitulah kiranya kata-kata perpisahan saat itu *halah.

Akhirnya setelah melalui perjalanan pulang yang panjang, sampe juga di stasiun Bogor. Mereka pada heran banget ngeliat gue ngerobek karcis kereta. "Yaelah Ges. Rapi amat". Kan buat kenang-kenangan, hehehe. Jam sebelas malem kita sampe di Dramaga tercinta. Nyampe kosan langsung tepar tapi seneng. Oh iya, ini benda-benda yang di dapet seharian.


Kupon :D
Jam baru, cikiciw
Karcis keretanya sampe skarang masih disimpen
Setelah disatuin

Dan terakhir foto tergalau edisi hari itu, hasil kerja keras Mita buat dapet efek bokeh. Good good. :) Eh tapi ini udah diedit si. Muka gue ga mungin semulus itu udah malem dan kena debu jalanan sana-sini. *jujur amat.



Besok paginya, ada yang mention di twitter, cekidot..



Hahaha,, thanks for the wonderful day.. :D #bighug

Minggu, 12 Agustus 2012

Post Terpanjang

Oke, gue ngaku, "gue kangen" titik

NB: ini post terpanjang gue.

Rabu, 08 Agustus 2012

Hobi yang Terlupakan

Beberapa minggu ini gue disibukkan dengan kepanitiaan MPKMB sampe gue meninggalkan salah satu hobi gue yang,,,, ehhmm rada aneh. Yap, gue suka melukis, bukan ding. Menggambar. Yaaahh, apalah namanya, pokoknya itu. Gue mulai serius ngejalanin hobi ini sejak gue masuk kuliah. Awalnya si karena gue borring ngedengerin dosen yang ga tau ngejelasin apaan. Iseng-iseng gue gambar si Delmar yang waktu itu duduk di depan gue. Gue gambar di kertas binder yang tanpa garis. Kertas ini dibeliin kakak gue karena dia tau gue suka gambar. Dia juga ngebeliin gue buku sketsa, dan bermacam-macam pensil mulai dari F sampe 9B.

Keseriusan gue memuncak waktu gue pergi ke Gramedia dan berdiri di salah satu pojok yang khusus memajang alat-alat menggambar, melukis, mengecat, pokoknya yang kaya gitu deh. Sumpah ya,, itu keren abis. Ada satu kotak besar pensil berwarna maupun ga berwarna khusus buat melukis keluaran Derwent, asal Inggris. Dan harganyaaaa,, Rp 799.000,00. Dan gue harus puas hanya dengan kotak kecil charcoal yang cukup bikin kantong gue kering, dan bikin gue ga jajan beberapa hari.


Suatu hari setelah searching di mbah google, gue balik lagi ke Gramedia dengan niat mau beli penghapus khusus buat charcoal. Namanya kneaded eraser. Bagi yang ga tau apa itu charcoal, charcoal itu arang. Hasilnya keren kalo dibuat melukis. Tergantung orang yang ngelukis juga si. Setelah nyampe sana, ngeliat harganya, gue langsung nelen ludah. Penghapus yang dari bentuknya ga ada cakep-cakepnya ini ngabisin jatah makan gue dua hari.


Kebanyakan objek langsung yang gue gambar adalah temen sekelas gue. Ya alesannya tadi, gue males ngedengerin dosen jadi gambar aja (dosa banget ini gue). Di bawah ini beberapa hasil lukisan gue dari yang ngeliat objeknya langsung, ngeliat foto mereka, atau meniru lukisan yang udah ada. Maklum masih amatir.

Fathurrahman Naufan, Q11

Fauzan Aulia Fikri, Q11







Delmar Zakaria F. Q11 (ini dijadiin ava twitternya @delmarzf, tp twitternya ga aktif)

Delmar lagi
Galuh Ardiansyah, Q11

Galuh lagi
Dan masih banyak lagi, gambarnya masih di binder, dan gue ga bawa bindernya pulang ke rumah. Sekarang gue lagi mencoba menyelesaikan sebuah gambar. Semoga selesai tepat pada waktunya. Dan semoga hasilnya mirip. Amin. ;)