Tulisan ini bercerita tentang seseorang, yang kepadanya semua rinduku tertuju, yang untuknya sayangku melimpah ruah tak terbendung. Dia yang telah mengubah segenggam benci yang awalnya kutanam menjadi cinta yang luas dan lapang tak terukur.
Pribadinya begitu sulit diterka. Bertahun-tahun aku memperhatikan hingga tak sengaja mengenal ia jauh melampaui batas yang aku kira. Dia suka menyendiri, terisolir dari komunitas, sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga ia tidak membiarkan orang lain yang tidak dekat dengannya untuk masuk. Terkadang dia hanya menghabiskan waktu dengan tidur siang di salah satu mushola tidak terpakai di kampus, saat jam pergantian mata kuliah. Otaknya begitu cemerlang, anugerah Tuhan yang paling aku kagumi tiada tara. Terkadang wajahnya terlihat melamun, namun sebenarnya saat itulah otaknya sedang bekerja. Cara dia melihat suatu masalah sangatlah logis. Dia juga pandai berdebat dan tak ingin disanggah jika dia yakin benar akan teori yang dimilikinya. Dia mudah melihat hubungan dari suatu hal dengan hal lainnya. Dia mengingat dengan jelas hal-hal kecil yang sering dianggap tidak penting oleh orang lain, tetapi sering berpura-pura melupakannya.
Hatinya begitu tumpul, sehingga dia tidak peka dengan perasaan orang lain. Ketika seseorang memiliki masalah, dia akan datang dengan berbagai solusi logis yang bisa diberikan, tapi jangan harap dia akan mengerti bagaimana perasaan orang yang bersangkutan. Dia pandai menyembunyikan perasaan. Tetapi terkadang sedikit bocor, mengingat aku adalah pembaca perasaan yang -sedikit kubanggakan- ulung. Aku juga seringkali dibuat bingung dengan sikapnya yang seolah memiliki dua kepribadian. Suatu hari dia begitu cuek, galak atau bahkan marah ketika aku melakukan kesalahan sedikit saja. Di lain hari dia begitu manja, bahkan tetap melakukan apa saja yang kuminta, padahal aku baru saja membuatnya kesal hingga mungkin dia ingin sekali memukul tembok. Jika dia marah, sangatlah tidak bijaksana untuk menyanggah setiap perkataannya. Pilihan satu-satunya adalah bersabar dan sebisa mungkin tidak berlari pergi dari hadapannya saat itu juga. Ya,, dia juga sangat tidak sabar. Tapi, dia selalu menutupi, ingat, dia pandai menyembunyikan perasaan.
Entah apa yang membuatnya begitu spesial. Apa karena aku merasa nyaman, karena pada dasarnya kita sama-sama penyendiri? Sehingga duduk berdua tanpa banyak bicara pun rasanya sudah membahasakan semuanya? Aku selalu ingat hal-hal yang terlewat bersamanya.. Sayangnya,, tak seorang pun mengajarkanku untuk melupa..


