Halaman

Sabtu, 08 Februari 2014

Tentang Puisi

Katamu, puisi begitu merepotkan
Namun bagiku puisi justru sangat sederhana
Lebih sederhana dari berbagai tingkah aneh saat kau jatuh cinta
Lebih sederhana dari berbagai tingkah janggal saat kau cemburu
Lebih sederhana dari berbagai diammu saat kau patah hati
Banyak hal yang begitu sulit kuucap
Banyak hal yang kutelan kembali saat berada di ujung lidah
Banyak hal yang begitu ingin kusampaikan
Namun akhirnya aku memilih diam
Karena mungkin hal itu akan menyakitimu
Atau mungkin karena hal itu tidak seharusnya kuberikan padamu
Namun tetap saja semua hal itu ingin kuungkap
Karena dadaku sudah cukup sesak untuk menampung semua rasa
Maka puisi adalah cara paling sederhana yang dipilih
Melalui puisi„
Aku sampaikan rindu seperti hujan yang jatuh bertalu-talu di atap rumahmu
Aku ungkapkan ketakutan akan kehilanganmu layaknya burung-burung kecil yang khawatir apakah mentari esok pagi akan datang

Melalui puisi pula„
Aku sampaikan rasa bersalahku karena rindu ini seharusnya tidak kuberikan untukmu
Aku ungkapkan maafku karena jelas kau berhak pergi menjauh
Aku suratkan kecemasanku karena hatiku masih bimbang antara menyayangimu dan membencimu

Sayang, tapi juga benci
Benci, tapi masih saja sayang
Bahagia, tapi merasa sakit di saat bersamaan
Sakit, tapi masih tak mau pergi karena bahagia itu datang darimu

Pernahkah kau merasa begitu?
Pernahkah aku mengatakannya langsung padamu?
Ah ya„ jelas tidak..
Maka lagi-lagi aku menyuratkannya dalam puisi yang sederhana..



-gestipr-
08022014
GFM, saat sedang turun hujan

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar