Halaman

Rabu, 27 Maret 2013

Canopy = You

Sekali waktu, aku menatapmu dalam diam.
Menatap parasmu yang kerap kali menampakkan segala keletihan.
Aku hanya bisa menatapmu.
Kau sebuah kanopi yang begitu tinggi.
Sedangkan aku, aku hanya sebuah belukar yang mendongak menatapmu penuh sendu.
Kau bilang aku unik.
Bisakah kau menemukan aku di antara belukar lainnya?
Aku ragu.
Kau pernah berkata akan menjagaku ketika aku tertidur.
Apakah kelak kau akan mengatakan itu sekali lagi?
Mungkin tidak.
Aku hanya sebuah butir pasir di antara jutaan keping koin emas.
Meminta sedikit ruang di lacimu untukku terdengar sangat riskan.
Pernahkah namaku terlintas di pikiranmu walaupun hanya sedetik?
Aku selalu mengingatmu di setiap gerakku.
Ketika aku mendongak menatap langit biru, aku teringat sebuah siang yang kuhabiskan berceloteh tentang langit bersamamu.
Ketika aku mendongak menatap langit jingga, aku teringat sebuah senja yang kuhabiskan bersamamu dan kau berkata seharusnya aku melukis indahnya langit sore itu.
Ketika aku mendongak menatap langit malam, aku teringat janjimu untuk menatap bulan bersamaku dari sebuah tempat yang tinggi.
Tapi apa kau ingat aku saat kau menatap langit?
Aku terlalu buruk untuk mendapat sedikit perhatianmu.
Bahkan untuk berjalan di sampingmu, terkadang aku merasa tak pantas.
Sekali lagi, kau sebuah kanopi dan aku sebuah belukar.
Untuk bersaing mendapatkan sinar matahari pun aku tak mampu.
Kebanyakan orang akan segera menghampirimu untuk sekedar berteduh dan melepaskan lelah.
Sedangkan aku, aku tumbuh untuk ditebas.
Aku tumbuh untuk merusak dan menggores dengan perih....

Image from here


0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar