Halaman

Minggu, 23 Februari 2014

Dia

Tulisan ini bercerita tentang seseorang, yang kepadanya semua rinduku tertuju, yang untuknya sayangku melimpah ruah tak terbendung. Dia yang telah mengubah segenggam benci yang awalnya kutanam menjadi cinta yang luas dan lapang tak terukur.

Pribadinya begitu sulit diterka. Bertahun-tahun aku memperhatikan hingga tak sengaja mengenal ia jauh melampaui batas yang aku kira. Dia suka menyendiri, terisolir dari komunitas, sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga ia tidak membiarkan orang lain yang tidak dekat dengannya untuk masuk. Terkadang dia hanya menghabiskan waktu dengan tidur siang di salah satu mushola tidak terpakai di kampus, saat jam pergantian mata kuliah. Otaknya begitu cemerlang, anugerah Tuhan yang paling aku kagumi tiada tara. Terkadang wajahnya terlihat melamun, namun sebenarnya saat itulah otaknya sedang bekerja. Cara dia melihat suatu masalah sangatlah logis. Dia juga pandai berdebat dan tak ingin disanggah jika dia yakin benar akan teori yang dimilikinya. Dia mudah melihat hubungan dari suatu hal dengan hal lainnya. Dia mengingat dengan jelas hal-hal kecil yang sering dianggap tidak penting oleh orang lain, tetapi sering berpura-pura melupakannya.

Hatinya begitu tumpul, sehingga dia tidak peka dengan perasaan orang lain. Ketika seseorang memiliki masalah, dia akan datang dengan berbagai solusi logis yang bisa diberikan, tapi jangan harap dia akan mengerti bagaimana perasaan orang yang bersangkutan. Dia pandai menyembunyikan perasaan. Tetapi terkadang sedikit bocor, mengingat aku adalah pembaca perasaan yang -sedikit kubanggakan- ulung. Aku juga seringkali dibuat bingung dengan sikapnya yang seolah memiliki dua kepribadian. Suatu hari dia begitu cuek, galak atau bahkan marah ketika aku melakukan kesalahan sedikit saja. Di lain hari dia begitu manja, bahkan tetap melakukan apa saja yang kuminta, padahal aku baru saja membuatnya kesal hingga mungkin dia ingin sekali memukul tembok. Jika dia marah, sangatlah tidak bijaksana untuk menyanggah setiap perkataannya. Pilihan satu-satunya adalah bersabar dan sebisa mungkin tidak berlari pergi dari hadapannya saat itu juga. Ya,, dia juga sangat tidak sabar. Tapi, dia selalu menutupi, ingat, dia pandai menyembunyikan perasaan.

Entah apa yang membuatnya begitu spesial. Apa karena aku merasa nyaman, karena pada dasarnya kita sama-sama penyendiri? Sehingga duduk berdua tanpa banyak bicara pun rasanya sudah membahasakan semuanya? Aku selalu ingat hal-hal yang terlewat bersamanya.. Sayangnya,, tak seorang pun mengajarkanku untuk melupa..

Sabtu, 08 Februari 2014

"Entah harus berkata apa untuk akhir tragis, dari sebuah kisah yang miris.."

Tentang Puisi

Katamu, puisi begitu merepotkan
Namun bagiku puisi justru sangat sederhana
Lebih sederhana dari berbagai tingkah aneh saat kau jatuh cinta
Lebih sederhana dari berbagai tingkah janggal saat kau cemburu
Lebih sederhana dari berbagai diammu saat kau patah hati
Banyak hal yang begitu sulit kuucap
Banyak hal yang kutelan kembali saat berada di ujung lidah
Banyak hal yang begitu ingin kusampaikan
Namun akhirnya aku memilih diam
Karena mungkin hal itu akan menyakitimu
Atau mungkin karena hal itu tidak seharusnya kuberikan padamu
Namun tetap saja semua hal itu ingin kuungkap
Karena dadaku sudah cukup sesak untuk menampung semua rasa
Maka puisi adalah cara paling sederhana yang dipilih
Melalui puisi„
Aku sampaikan rindu seperti hujan yang jatuh bertalu-talu di atap rumahmu
Aku ungkapkan ketakutan akan kehilanganmu layaknya burung-burung kecil yang khawatir apakah mentari esok pagi akan datang

Melalui puisi pula„
Aku sampaikan rasa bersalahku karena rindu ini seharusnya tidak kuberikan untukmu
Aku ungkapkan maafku karena jelas kau berhak pergi menjauh
Aku suratkan kecemasanku karena hatiku masih bimbang antara menyayangimu dan membencimu

Sayang, tapi juga benci
Benci, tapi masih saja sayang
Bahagia, tapi merasa sakit di saat bersamaan
Sakit, tapi masih tak mau pergi karena bahagia itu datang darimu

Pernahkah kau merasa begitu?
Pernahkah aku mengatakannya langsung padamu?
Ah ya„ jelas tidak..
Maka lagi-lagi aku menyuratkannya dalam puisi yang sederhana..



-gestipr-
08022014
GFM, saat sedang turun hujan

Senin, 23 Desember 2013

Tried to Be A Photographer

Ini beberapa foto iseng yang gue ambil waktu jadi panitia bagian dokumentasi di acara ISS.. Seneng aja sama hasilnya, walaupun masih jauh dari kata profesional..






Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara.

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana.

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu.

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku.

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu..

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu..

(1989)” 
― Sapardi Djoko Damono
“Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”


Hari ini,,, gagal marah.. Entah kenapa gue kok kalo niatan mau nyuekin ni orang gagal mulu. Jadi bete sendiri. Gue juga ga bisa nolak kalo orang minta sesuatu ke gue. Termasuk ketika dia minta ngerjain tugas bareng atau minta ajarin metdin. Padahal gue juga ga bisa metdin. Bukan berarti gue keberatan atau ga ikhlas. Gue seneng kok kalo bisa bantu orang lain, ga ada paksaan apapun. Hal itu berlaku ke semua orang, ga cuma ke dia doang. Tapi, ketika dia yang ngajak atau minta ngerjain tugas bareng, gue teringat masa-masa ga enak jaman dulu. Dia selalu minta ajarin ke temen gue. Maunya apa-apa sama dia. Sampe bela-belain pagi-pagi dateng ke kosannya. Sekarang giliran temen gue marah, dia jadi balik lagi ke gue. Sejujurnya,, gue ngerasa kayak jadi pelarian (lagi). Tapi entahlah,, isi hati seseorang cuma orang itu sama Allah yang tau. Yang penting niat gue tulus mau bantu orang itu. Gapapa kalo emang cuma dijadiin pelarian, biar Allah yang bales kebaikan gue...

Minggu, 22 Desember 2013

"Bahagia itu sederhana...."

Iya, bahagia itu bener-bener sederhana. Ada di antara kalian, walaupun ga ada yang istimewa, gue tetep bahagia. Ada bareng 'elu' walaupun cuma duduk bareng sambil ngegaring, gue tetep bahagia. Kencan berdua sama laptop gue di kampus walaupun dengan sinyal wifi yang ogah-ogahan, gue tetep bahagia...

Sabtu, 09 November 2013

Trapped

Well, malem ini sungguh malem yang paling bodoh. Kenapa? Karena gue terjebak bersama makhluk-makhluk ajaib GFM 48, tapi cowok semua (baca: Buncis, Radini, Taufik, Tresna). Ceritanya, gue menghabiskan waktu bareng yang lainnya sampe jam setengah dua belas malemlah kira-kra. Waktu itu masih ada Mbak Jauh sama Aviya. Trus mereka pulang ke kosan masing-masing, sedangkan gue ga bisa pulang ke kosan karena pintunya masih kekunci. Mau nginep di tempat mereka juga ga enak. Alhasil gue nginep di ruang sidang bareng mereka.

Semoga orang lain mikirnya yang wajar-wajar aja. Gue ga tidur kok, bahkan gue ngumpet di kolong meja, terisolir dari mereka, hahaha.. Jujur, sebenernya gue ngerasa kayak anak kucing dalem kardus. Gue duduk anteng di lantai,, sementara Bun pergi nyariin karpet, trus dia balik dan gelarin karpetnya di kolong meja buat gue. Kayak kucing yang lagi dibikinin rumah kan? Tapi makasi banget buat mereka yang udah begitu perhatian ke gue.

Dan ga tau kenapa, gue posting ginian aja lama banget. Sampe sekarang udah pagi aja. Dan cowok-cowok ini sungguh aneh. Dibangunin cuma pindah tempat doang. Dari lantai pindah ke kursi.

Selasa, 05 November 2013

Jleb : #Part 1


Oke,, ini cuma bercanda..
Tapi,, jleb juga ya bacanya, hahaha..

Ngebayangin kalo nanti gue punya someone dan dia ngomong gitu..
Baru temen dan itu juga bercanda (si apis bercanda ga ya?) aja, rasanya jleb banget..
Gimana kalo nanti kejadian beneran?
Jangan sampe ya Allah.. -____-"

Minggu, 03 November 2013

0 : 22

Belakangan hari ini tiba-tiba kangen sama orang-orang ini.. Sekaligus merasa bersalah..


Kira-kira mereka lagi ngapain ya? Ujiannya lancar ga ya? Sehatkah? Atau sakitkah?
Tak ada kabar,, dan tak juga berusaha mengabari..
Maaf..
 

Sabtu, 02 November 2013

Fun Picture : #Part 1

Lagi bongkar-bongkar foto anak-anak GFM di laptop,, dan entah kenapa ngerasa lucu sama foto ini..

Dari kiri ke kanan: Ari - Bang Thaisir - Radini - Kak Indy

Setiap orang punya ekspresi yang beda-beda.. Pokoknya lucu, dan seneng aja liatnya, hahahaha :D

Senin, 21 Oktober 2013

:)


A happiness not always needs a big moment..
Just a little thing but has a deep meaning.. :)

With Lina Febrianti
#laporanmetsat #senja #koridorGFM #rainyday

Sabtu, 19 Oktober 2013

0:38 - 0:48

0:38

Gue memulai tulisan ini di jam 0:38 waktu laptop gue. Di tengah-tengah aktivitas ngerjain laporan Metklim yang ga selesai-selesai juga dari tadi. Kenapa tiba-tiba pengen posting lagi di blog yang mulai karatan ini?

Karena ga tau lagi siapa yang bisa diajak ngobrol tengah malem gini. Ngerjain laporan itu bikin jenuh, capek, puyeng, dan sayangnya itu makanan gue sehari-hari. Di saat-saat kayak gini pengen banget rasanya ada orang yang nemenin ngobrol, bercanda, atau basa-basi ringan biar guenya ga bosen-bosen amat.

And what's the problem?

I don't have anyone!!

Cukup miris memang.. -____-"

0:48 

Sabtu, 05 Oktober 2013

Who Is He?

Besok ceritanya kakak gue mau nikah. Tapi hari ini gue ke kampus buat ketemu Mita sama Apis. Yaaaaahhh,, gue dateng kesiangan banget, akhirnya cuma say hello doang trus pisah. Rada sewot juga sama si Apis. Pagi-pagi berangkat dengan muka cerah cetar badai membahana, tapi adaaaaa aja yang bikin kesel. Ya udahlah yaaaa...

Abis itu niatnya mau pergi ke Jambu Dua, tapi ga jadi. Entahlah, Bang Jep galau sepertinya dan dia ngajakinnya jadi malem. Ga mungkin kan gue ikut? Akhirnya ga jadi ke sana. Emang lagi ga mood juga si. Trus gue malah makan di Mulyasari sama Afni + Pepi.

Bingung mau kemana, pulang aja deh. Mumpung masih siang, kalo sore takut ujan. Biasanya di jemput bokap di Arco, tapi mikir-mikir lagi, si bokap pasti lagi repot. Akhirnya SMS Dek Ari aja minta jemput di pangkalan. Dia bilang, iya. Yang nyampe gue duluan, jadi nunggu sebentar. DAAAAANNNN,,, SIAPA YANG DATENG?? Mas Wardino yang dateng jemput gueeeeee!!!!!! KANGEN! Kangen banget sumpah. Ga nyangka itu orang bakal dateng. Sempet speechless, bengong bego sedetik. Aaaaaaaaaahhhhh..... Waktu nanya ke Ari, katanya dia sendiri yang mau jemput gue.. :3

Jadi, Mas Wardino itu adalah sepupu gue, anak kedua dari kakak nyokap yang paling tua. Dari dulu gue pengen banget punya kakak cowok, dan itu bisa gue dapet dari dia. Dia bisa ngemong gue. Dengan sabar menanggapi semua pertanyaan gue yang ga ada abisnya. Ngejagain gue dengan caranya sendiri. Manggil gue sayang dengan makna yang sebenarnya. Kalo dia bilang, "Udah, sayaaaang", "Ya ga gitu sayaaaang", atau "halo sayaaaang", ya rasanya emang kayak jadi adek kesayangan. Begitu deh, susah dijelasin. Tapi bukan berarti dia ga suka jail loh ya. Kayak hari ini, sampe tengah malem kita berempat (bareng Dek Ari sama Mas Dullah) maen remi. Dan abis itu, karena rumah gue penuh sama sodara dari bokap, gue ikut ngumpul bareng mereka bertiga di rumah bulek gue (depan-depanan rumah kita). Mereka bobo, dan gue masih melek aja. Mas Wardino tiduran di sofa depan gue. Dengan jarak ga lebih dari dua meter, dia SMS gue, nanyain kenapa gue ga bisa tidur dan lagi mikirin apa. Hahaha, lucu banget ni orang. Waktu gue melengos, gue denger suara yang intinya gue tau waktu itu dia ketawa sendiri. Tau kan maksudnya ketawa sendiri? Sejenis senyum, tapi emang ga dimaksud-in buat orang lain. Gue mengartikan senyumnya mengisyaratkan, "Aduh, lucu banget si ini anak. Tingkahnya kayak bocah, nanya ga abis-abis, manja, tapi suka manyun tiba-tiba". Entahlah, mungkin gue aja yang kepedean. Tapi itu si yang gue rasain.

Iiiiiihhhh,, coba rumah kita deketan yaaaa?? Jadi kayak kakak kandung beneran pastinya.. :)

Minggu, 29 September 2013

I'm a .........

Gue orang yang jahat. Percayalah, karena itu memang sebuah kebenaran. Hati gue terlalu banyak berspekulasi untuk melindungi diri sendiri, melimpahkan kesalahan pada orang lain karena gue butuh sebuah alasan untuk terus berdiri kokoh.

Ada pepatah yang bunyinya kira-kira seperti ini,,
Jangan pernah menyalahkan orang lain karena mereka membuatmu kecewa. Tapi salahkanlah dirimu karena kamu berekspektasi terlalu tinggi terhadapnya.
Ya, gue berekspektasi terlalu tinggi pada sebagian orang. Gue juga terlalu posesif, walaupun gue ga terang-terangan nunjukkin itu. Gue takut, takut ketika orang yang terlampau dekat menemukan sosok baru untuk diperhatikan. Walaupun itu hanya sekedar teman sekalipun. Mungkin sedikit candaan sering terlontar. Tapi itu pake hati bercandanya.

Entahlah.. Kejahatan macam apa ini..

Kamis, 26 September 2013

Jangan Dibaca, Gue Cuma Lagi Galau Aja

Sebenernya rada bingung mau nulis apa. Niatnya cuma pengen blog ini aktif kembali. Tapi ga ada yang pengen gue bahas saat ini, kecualiiii.... rasa galau gue yang entah kenapa muncul lagi.

Belakangan hari ini, gue takut. Tapi gue juga ga tau takut kenapa. Hari Selasa kemaren niatnya pengen sedikit menghibur diri karena mau ketemu 4 MM. Tapiiii,,, entahlah. Atmosfernya ga mendukung, hehe. Mungkin lagi pada capek aja orang-orangnya. Laper, tapi bingung. Kalo makan berdua sama Oco, Linanya mau dikemanain? Disuruh ikut ga mau.. Akhirnya pas pulang cuma beli sebotol sprite.

Daaann,, hari ini ceritanya lagi seneng, suasana hati lagi baik. Eh pas sorenya si Bun ngambek sama gue, gara-gara gue lupa balikin fd nya. Ceritanya dia mau bikin laporan, dan datanya ada di situ. Untungnya ngambeknya ga lama-lama. Abis itu udah balik kayak biasa lagi (red: nyebelin seperti biasa).

Trus-trus,, ceritanya gue lagi kangen. Kangen sama sebuah momen. Ini semua gara-gara si Lina tiba-tiba ngajakin gue ke lantai 4 tengah malem. Gue jadi inget waktu itu pernah ngobrol panjang lebar di sana sampe tengah malem sama seseorang. Ga sengaja juga si. Ga sengaja kemaleman maksudnya. Tapi sekarang dia sibuk sendiri sepertinya. Kira-kira dianya masih inget ga ya? Tapi kemaren dia sms, nanya sesuatu. Hp gue lagi rusak, jadi pake hp Gigih sekarang. Akhirnya gue bales sms dia "btw, ini siapa?". Kenapa dia harus bales "ini gw, hantu lt. 4 -....-". Maksudnya apa? Pengen ngingetin gue sama kejadian waktu itu. Bikin gue kembang-kembang, trus ujung-ujungnya layu, kering gitu aja, hahaha.

Jujur, gue emang niat move on si. Tapi rada kehilangan juga. Masih suka kepikiran, "ih biasanya ke sini sama dia nih.. Wah, terakhir kali liat ini sama dia nih.. Hmm, biasanya dia suka duduk sendirian di sini nih.. Hmm, dia suka banget makan ini.. dan lain-lain.."

Kangen...
Dibilang ada apa-apa, tapi sebenernya ga ada-ada kata-kata konkrit yang terlontar.
Dibilang kita ga ada apa-apa, tapi sebenernya pernah ada apa-apa. Cuma kita berdua nyangkal, dan nganggep ga pernah terjadi apa-apa. Sulit... Pengen kabur, tapi nyatanya dia emang selalu ada di depan mata. Real!!

Pengen jauh,, tapi takut kangen,, bahkan ketika dia ada di samping gue,, gue tetep kangen..


Rabu, 21 Agustus 2013

Susahnya Mau Perwalian

Kalo dipikir-pikir, yang namanya jadi mahasiswa itu baru kerasa di tahun kedua ke atas. Yang namanya ngerjain tugas bergotong-royong di departemen (yang ngerjain satu orang, sisanya bergotong-royong menyalin), susahnya nyariin dosen, bolos kuliah rame-rame, sampe ngambilin cabe rawit rame-rame (yang ternyata buat penelitian) sebagai pelengkap makan gorengan.

Poin nomer dua, baru gue rasain beberapa hari yang lalu. Kebetulan dosen Pembimbing Akademik gue itu wakil rektor. Jadi susaaaaaaahhh banget mau ketemu. Dari tahun kedua sampe sekarang, berarti udah tiga kali gue perwalian sama dosen PA. Yang pertama, waktu itu lagi RG panitia MPKMB 49, gue bela-belain kabur sebentar sama si Ucy demi bertemu sang dosen. Yang kedua, gue sempet janjian hari jum'at kalo ga salah, dan waktu itu gue sama Nuy janjian jam 10. Kita udah dateng dan nunggu di ruangannya dari jam 10 kurang. Tapi si bapaknya ga dateng-dateng juga. sampe jam setengah sebelas ga nongol juga. Akhirnya Nuy sms bapaknya, dan kita ke AJMP buat online sekalian nunggu. Hampir jam 1, s Nuy dapet sms dari bapaknya. Tapi ternyata sms itu udah dari jam 12. Pas Nuy konfirmasi lagi, akhirnya kita disuruh dateng lagi hari Senin karena bapaknya mau ke Surabaya siang itu juga. Hari Seninnya, gue ga bisa karena ada kuliah. Saking betenya, akhirnya gue ga perwalian di semester itu. Yang ketiga, janjian sama bapaknya jam 10. Gue, Ucy, sama Nuy nyampe rektorat jam 10 lewat beberapa menit. Nyampe ruangannya, si bapaknya belom ada. Jam setengah 11, Ucy sms bapaknya. Bapaknya bilang kalo dia masih di Grawida dan kita disuruh ke sana aja. Yes, kita bolak-balik, dan itu lumayan capek. Tap alhamdulillah bapaknya lagi pusing ada acara OH 50, jadi ga ngomel-ngomel dulu terkait IPK yang turun.

Begitulah susahnya dunia perwalian gue. Mau ketemu aja susah bikin jadwal. Belom lagi degdegannya minta ampun. Soalnya bapaknya tipe-tipe orang yang serius banget dan ga pernah senyum. Heeeuuuuuu sedihnyaaaa.... :'(

Minggu, 18 Agustus 2013

Ini tentang kamu
Tentang semua rindu tertuju
Bukan tentang hujan yang kini tak kunjung reda
Bukan pula tentang bulan yang berharap gilirannya segera tiba
Ini tentang kamu
Tentang sebuah nama yang enggan untuk disebut
Tentang segala pertahanan diperkuat agar tak jebol
Tentang figur yang terbersit saat lagu-lagu itu dilantunkan
Tentang doa-doa yang dipanjatkan dalam diam
Ini semua tentang kamu