Halaman

Jumat, 07 September 2012

Home

Image from here
Apa yang pertama kali ada di pikiran kalian, ketika mendengar kata rumah? Bangunan bata? Perapian yang hangat? Keluarga? Atau hal lain? Apapun itu, pasti memberikan kesan nyaman di hati masing-masing.

Bagi saya sendiri, rumah bukan hanya sekedar bangunan kokoh yang saya jadikan tempat berlindung dari panas dan hujan. Tapi juga tempat yang membuat saya nyaman, aman, dan tentram. Saya bisa melakukan apa saja di rumah, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.

Tapi, apakah sebuah bangunan kokoh saja bisa memberikan rasa nyaman, aman, dan tentram? Saya rasa tidak. Kita pasti butuh teman bicara, teman berbagi cerita, dan teman untuk bersandar. Maka saya tidak akan menyebut sebuah bangunan kokoh sebagai rumah, tanpa adanya orang lain yang membuat saya merasa nyaman.

Rumah primer, apa itu? Mungkin ini istilah yang saya buat untuk menggambarkan rumah induk saya, tempat saya tinggal bersama keluarga saya yang terdiri dari kedua orangtua, dan seorang kakak perempuan. Ya, sekarang saya berada jauh dari rumah primer saya. Sudah barang tentu saya rindu suasana di sana. 

Lalu?? Ya, saya membuat istilah yang kedua, yaitu rumah sekunder. Rumah sekunder saya bukan kosan atau kontrakan yang saya tempati saat ini. Tapi kalian. Saat saya berada di tengah kalian, maka saya sedang berada di rumah sekunder saya. Walaupun tidak kasat mata, tapi di sana berdiri kokoh sebuah dinding yang membuat saya merasa aman. Walaupun tidak kasat mata, tapi di sana terdapat atap yang selalu menaungi beribu keluh kesah. Walaupun tidak kasat mata, tapi di sana berdiri pilar-pilar yang siap menyokong berbagai masalah. Walaupun tidak kasat mata, tapi di sana tertanam fondasi kuat yang menahan berbagai amarah.

Tidak peduli dimana rumah sekunder itu didirikan, selama ada rumah sekunder, saya tidak akan terlalu merasa kehilangan. 

Image from here

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar